Teror Viral

Menyebarkan hingga menjadi viral foto-foto kejadian bom di Kampung Melayu hanya akan membantu pelaku teror mencapai tujuannya. Tujuan kejahatan terorisme bukan meledakkan tempat atau membunuh korban, namun dampak yang muncul setelah itu, yaitu ketakutan yang muncul di masyarakat.
Penyebaran foto, termasuk terlalu berlebihan memberitakan kejadian justru mengamplifikasi ketakutan yang semestinya dapat ditahan.

Ada kebiasaan setelah usai aksi teror akan muncul klaim yang dibuat oleh mereka yang menyebut dirinya pelaku yang bertanggung jawab. Tujuannya adalah, selain menegaskan eksistensi, mereka juga ingin meningkatkan level kekhawatiran di masyarakat. Dalam skala tertentu akan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, politik secara makro.

Saya menyarankan agar kita tidak justru “membantu” pelaku mencapai tujuannya dengan mengamplifikasi ketakutan

Iqrak Sulhin
Kriminolog UI

Sulitnya Mengungkap Teror Terhadap Novel

Cukup lama setelah Novel Baswedan, penyidik KPK, disiram air keras di pagi subuh, polisi belum kunjung berhasil mengungkap pelaku dan motifnya. Dalam pandangan saya, beberapa sebab polisi sulit mengungkap kasus ini. Pertama, polisi kekurangan petunjuk. Petunjuk biasanya diperoleh dari keterangan saksi-saksi, termasuk saksi korban. Dalam kasus Novel, saksi mungkin tidak bisa memberikan deskripsi yang jelas mengenai ciri pelaku, termasuk atribut lain yang menempel pada saksi, seperti kendaraan, pakaian, atau simbol-simbol tertentu. Saksi korban pun saya duga memiliki kesulitan yang sama. Situasi yang masih gelap pada saat kejadian semakin menyulitkan. Rekaman CCTV di daerah di sekitar tempat tinggal Novel juga tidak memberikan petunjuk yang jelas.

Kedua, air keras merupakan bahan yang sangat mudah diperoleh di toko kimia. Di Indonesia, untuk bahan-bahan yang selama ini sering digunakan di dalam kekerasan, sudah semestinya di dalam pembelian dilakukan pendataan. Karena penggunaan air keras bisa dianggap bukan untuk keperluan keseharian. Untuk pembelian besar yang dilakukan korporasi, mungkin tercatat, namun tidak untuk pembelian skala kecil. Hal ini turut mempersulit pelacakan.

Dalam banyak penelitian kriminologi, kejahatan kekerasan, hingga pembunuhan, biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki hubungan dengan korban. Baik dalam konteks keluarga, pertemanan, rekan kerja, atau tetangga. Biasanya dipicu oleh sesuatu yang kemudian memunculkan dendam atau sakit hati. Oleh karenanya, bila kekerasan (seperti pembunuhan) terjadi, polisi akan mengembangkan teori bahwa pelaku adalah mereka yang dikenal oleh korban. Pelacakan bisanya dilakukan melalui keterangan saksi hingga rekam komunikasi terakhir, seperti SMS, chat, atau email.

Kasus Novel saya kira tidak berkaitan dengan motif interpersonal tersebut di atas. Namun dilatarbelakangi oleh sesuatu yang lebih besar. Patut diduga kekerasan yang dialaminya berkaitan dengan statusnya sebagai penyidik di KPK yang tengah memproses kasus-kasus besar. Pelaku yang menyiramkan air keras patut diduga adalah orang suruhan, bukan pelaku sebenarnya yang memiliki motif.

Beban saat ini ada di kepolisian, karena bila tidak terungkap, maka ini akan jadi preseden yang tidak baik bagi penegakan hukum di Indonesia

Iqrak