SISWA “ANARKI” ??

Aksi pengeroyokan wartawan oleh siswa SMU 6, senin 19 September lalu masih hangat dibicarakan. Wajar bila publik mengutarakan keprihatinan terhadap aksi siswa tersebut. Namun ada hal yang terlupakan oleh media dan publik.

Bahwa ada keinginan untuk meneruskan persoalan ini pada ranah hukum adalah sebuah kewajaran, mengingat korban berhak atas reaksi seperti itu. Hanya saja, menurut hemat saya, ada upaya dramatisasi yang dilakukan oleh media massa. Media seperti paham betul bahwa mereka memiliki kuasa dalam penggiringan opini publik, sehingga hampir setiap hari kejadian tersebut dibahas, disertai oleh penayangan gambar “keberingasan” siswa pada peristiwa itu.

Kita harusnya paham, bahwa dramatisasi tindakan yang memang salah dari siswa itu justru kontraproduktif terhadap penyelesaian masalah ke depan. Yang potensial muncul di publik adalah semakin menguatnya stigma bahwa siswa sekolah tersebut adalah siswa yang anarkis dan brutal. Terlebih publik diberitahu berulang-ulang mengenai riwayat para siswanya yang sering melakukan tawuran dengan sekolah tetangganya.

Bila stigma ini menguat, para siswa bisa meresponnya dalam bentuk yang justru negatif. Yaitu menginternalisasi anggapan atau stigma sebagai siswa yang bringas tersebut dan menganggap dirinya sebagai pribadi-pribadi yang sudah sewajarnya selalu berbuat demikian karena sudah kepalang tanggung. Inilah yang berbahaya. Stigma akan menciptakan image diri yang negatif, yang pada akhirnya memperbesar kemungkinan siswa untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih serius daripada apa yang mereka perlihatkan Jumat dan senin lalu itu.

Semoga kawan-kawan wartawan bisa menahan diri dan mulai menurunkan pemberitaan yang justru menyejukkan suasana. Bila proses hukum diteruskan, saya berharap sebaiknya dilakukan dengan jalan di luar peradilan pidana saja. Perilaku pelanggaran oleh anak/remaja adalah bagian dari upaya mereka membentuk dan menunjukkan identitas. Dalam bahasa umumnya, adalah upaya mereka mencari jati diri. Sehingga tindakan mereka itu lebih baik dianggap sebagai sesuatu yang belum mereka pahami seutuhnya dari sisi rasionalitas dan konsekuensinya.

Semoga menjadi pelajaran bagi semua.

Explore posts in the same categories: Media Massa dan Kejahatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: