Teror Breivik

Tujuan utama teror adalah menciptakan ketakutan dan kekacauan, meski korban langsung bukanlah target sebenarnya. Teror adalah wujud kebencian, yang dilatari keyakinan picik dan kegilaan. Buah dialektika irasional dalam alam pikir pelaku, di mana pembenaran datang karena nafsu dan kebencian. Di dalam teror, tidak ada ruang untuk alternatif, tidak ada tempat bagi “yang lain”, dan tidak ada kehidupan bagi yang “kafir”.

Peristiwa terorisme di Norwegia, Jumat 22 Juli lalu, yang sedikitnya menewaskan 90 jiwa, mengejutkan dunia. Pelaku yang bernama Anders Behring Breivik (32) mengidentifikasi dirinya sebagai pembenci multikulturalisme, karena semakin banyaknya imigran yang masuk ke Eropa, khususnya yang berasal dari negara muslim. Bagi Norwegia, sebuah negara kesejahteraan yang nyaris minim peristiwa kejahatan serius, serta Eropa umumnya, teror Breivik, membangunkan kesadaran lain bahwa ancaman terorisme ternyata tidak hanya terbatas seperti yang selama ini dikonstruksi oleh dunia.

Hal yang menarik untuk dicatat dalam peristiwa teror di Norwegia tersebut adalah rumor/sangkaan media beberapa jam pasca kejadian sebelum pelaku berhasil ditangkap. Sempat beredar kabar bahwa pelaku pengeboman dan penembakan membabi buta itu dilakukan oleh kelompok teror Al Qaeda. Ternyata rumor/sangkaan itu salah. Pelaku, ternyata berasal dari kelompok Kristen ultra kanan yang phobia terhadap Islam.

Tulisan ini melihat bahwa Eropa dan mungkin dunia barat umumnya, ter-hegemoni oleh konstruksi media massa dan kebijakannya sendiri. Selama ini dunia selalu berasumsi bahwa pelaku teror besar dipastikan berasosiasi dengan jejaring teror Islam garis keras internasional, seperti Al Qaeda dan varian-varian regionalnya. Peristiwa terakhir tersebut seharusnya dapat merubah pandangan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini terorisme internasional telah melibatkan kelompok-kelompok Islam, termasuk yang marak terjadi di Indonesia. Pemahaman yang eksklusif dan intoleran telah menimbulkan kebencian, baik terhadap dunia barat, bahkan kepada sesama muslim yang kebetulan berbeda pemahaman.

Dalam konteks pencegahan kejahatan, Norwegia dan Eropa umumnya telah terjebak dalam pemahaman yang tidak kritis tentang terorisme. Bahwa hingga saat ini jejaring teror yang dimotori Al Qaeda masih dapat dikatakan aktif pasca tewasnya Osama bin Laden memang cukup menjadi alasan untuk membuat Eropa dan Amerika tetap waspada. Namun yang luput adalah pemahaman bahwa teror bukanlah kejahatan yang mesti berskala internasional. Tidak mesti pula selalu melibatkan pemain lama. Breivik membuktikan hal itu. Kejahatan yang dilakukannya menghentak Eropa yang selama ini terhegemoni oleh pemahaman umum terorisme pasca 11 September.

Peristiwa ini seharusnya membuat Eropa mengevaluasi mekanisme keamanan internalnya. Sebagaimana diberitakan, Breivik adalah pelaku yang telah cukup lama mengungkap indikasi-indikasi kebencian melalui media internet. Terutama terhadap imigran di Eropa. Keamanan internal atau intelijen Norwegia seharusnya telah menjadikannya seseorang yang perlu diawasi. Sehingga pengadaan berton-ton pupuk yang kebetulan dilakukan Breivik untuk membuka lahan pertanian seharusnya dapat dicurigai. Amonium Nitrat, sebagai bahan pembuat pupuk juga dapat dipergunakan sebagai bahan pembuat bahan peledak.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: