PENIPU CANTIK

Oleh Iqrak Sulhin

Selly begitu terkenal. Tidak hanya beberapa minggu terakhir ini tapi juga sudah bertahun. Ketika tertangkap di Bali ia punya identitas baru sebagai penipu cantik, media massa yang memberikan. Sebuah media memberitakan bankir seksi ditangkap. Pertanyaannya, apakah pernah ada penipu ganteng atau koruptor tampan? Saya ragu media pernah menulis itu. Ada apa rupanya bila perempuan melakukan kejahatan? Cantik pula! Apakah jahatnya lebih jahat dari kejahatan laki-laki sehingga perlu disakiti dengan memberikan identitas si cantik tapi penjahat? Bukankah banyak pengguna dan pengedar narkoba laki-laki yang berparas tampan karena memang kebetulan dari keluarga kaya? Atau kita sering melihat gagahnya dan saleh-nya penampilan laki-laki yang membunuh dan menggelapkan uang rakyat?

Saya tidak sedang bicara apa itu cantik atau ganteng. Tapi pelakatan identitas yang sarkastik terhadap perempuan. Kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh Selly Yustiawati atau penggelapan uang nasabah sebuah bank swasta yang diduga dilakukan oleh Malinda Dee adalah dua contoh di antara banyak. Terlepas bahwa perbuatan keduanya adalah kejahatan yang perlu dipertanggung jawabkan secara adil. Media massa merasa penting untuk menegaskan bahwa si penipu atau si penggelap itu adalah wanita yang cantik. Media massa sepertinya merasa seorang wanita cantik tidak boleh melakukan kejahatan. Bila si cantik melakukan kejahatan, maka kejahatannya dianggap lebih jahat. Coba bayangkan bila si penipu dan si penggelap itu adalah laki-laki.

Saya melihat ini sebagai kegenitan sekaligus kesadisan media massa. Celakanya, konstruksi ini dapat mempengaruhi persepsi publik lebih luas. Bukan untuk mewaspadai kolega yang cantik atau para perempuan cantik yang bekerja di bank, namun menganggap bahwa perempuan, apalagi cantik (menurut konstruksi iklan pula), seharusnya adalah individu yang harus selalu taat, terhadap norma, hukum formal, dan agama. Sehingga saat kejahatan dilakukan olehnya, diperlukan reaksi yang lebih keras lagi terhadap dirinya. Dengan kata lain, orang cantik tidak boleh jahat, orang cantik harus taat!

Gejala ini mengukuhkan kekuasaan terhadap tubuh perempuan. Sama halnya saat kita melihat iklan produk “kecantikan” yang mengkonstruksi cantik sebagai kulit putih (dan tidak berbulu), rambut lurus panjang, dan ramping. Maknanya jelas, perempuan yang berambut keriting, hitam, berbulu, gemuk, adalah perempuan yang tidak cantik. Apa yang terjadi? Produk yang ditawarkan meningkat penjualannya, sehingga iklan makin gencar. Para perempuan dibuat terpaksa menggunakan produk itu hanya untuk ingin dianggap cantik, sebagaimana iklan contohkan. Inilah bentuk penguasaan terhadap tubuh, yang seharusnya dengan mudah dapat disadari. Hanya sulit karena iklan terlalu kuat, televisi dan majalah wanita terlalu berpengaruh, dan hak eksistensi perempuan bukan bacaan yang menarik.

Media massa perlu menyadari kembali etika dalam pemberitaan. Saya kira setiap tersangka memiliki praduga tidak bersalah. Sehingga identitas perlu diberitakan secara terbatas. Bila tidak inisial, maka perlu disebut si Selly yang diduga menipu. Selain itu, ekspos terhadap wajah harus dibatasi karena pemberitaan yang fulgar ibarat memberikan daging kepada macan. Stigma terhadap pelaku akan menguat dan identitas tunggal sebagai penjahat akan bertahan bertahun-tahun. Terlebih bila dibumbui oleh pelekatan identitas yang sarkastik tersebut.

Sulit untuk menerima argumen bahwa sarkasme media terhadap perempuan adalah cara untuk menarik perhatian publik sehingga wajar dilakukan. Terlebih alasan bahwa itu cara media bekerja. Penguasaan patriarki terhadap perempuan melalui media bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Namun ia kesadaran produktif dari sebuah mekanisme. Michel Foucault, seorang filosof, melihat kekuasaan seperti mekanisme, yang tidak melekat pada subjek atau institusi. Kekuasaan bukan lagi pengaruh kelas borjuis terhadap proletar, tetapi produk dari mekanisme yang konsisten. Cara bekerja media yang konsisten melanggar kepentingan perempuan dalam pemberitaan adalah mekanisme yang produktif untuk menguasai (viktimisasi) perempuan.

Dalam banyak kejahatan yang dilakukan oleh perempuan, terdapat pengaruh kuat dari lingkungan yang patriarkis. Perempuan yang tertangkap menyeludupkan narkoba bila kasusnya ditelusuri lebih jauh dipengaruhi bahkan dipaksa oleh laki-laki pasangannya (pacar atau suami). Pembunuhan yang dilakukan istri terhadap anak atau suami, tidak dapat dilihat sebagai kejahatan pada dirinya sendiri. Pendalaman sering memperlihatkan bahwa kejahatan sebenarnya justru dilakukan oleh suami. Dalam banyak kasus, media massa cenderung tidak tepat dalam memberitakan. Tanpa disadari, pola pemberitaan yang tidak sensitif, justru mempertahankan bahkan memperbesar penguasaan terhadap perempuan.

Susan Brownmiller, seorang feminis Amerika, memberikan telaah penting dalam hubungan antara ketimpangan kekuasaan gender (gender power disparity/GPD) dengan viktimisasi perempuan (female victimization/FV). Dari sini kita dapat melihat bagaimana media massa dalam batas tertentu tidak ubahnya seperti kejahatan. Menurutnya, hubungan GPD dengan FV seperti spiral. GPD yang mendapat modal dari ideologi patriarki di masyarakat membuat perempuan memiliki rentan riil mengalami viktimisasi. Selanjutnya, viktimisasi yang terjadi terhadap perempuan adalah pengukuhan terhadap ketimpangan kekuasaan tersebut.

Kegenitan media terhadap perempuan seperti mekanisme konsisten pencipta penguasaan, sebagaimana dijelaskan Foucault. Mekanisme ini membentuk perempuan dengan identitas tunggal, sebagai cantik, seksi, atau yang taat, serta kehilangan hak eksistensinya dalam batas tertentu. Pada saat yang sama terjaga ketimpangan kekuasaan antara laki-laki, yang menguasai media, dengan perempuan.

Dalam pemberitaan, Selly, si penipu cantik atau Malinda, si bankir seksi menurut media itu, akan mengalami viktimisasi. Identitasnya yang seharusnya beragam, diubah menjadi tunggal dan tinggal menunggu “penghakiman massa” dalam bentuk stigma dan kebencian. Hal ini semakin memprihatinkan bila sesaat mengingat bagaimana media memberitakan dikejar-kejarnya pekerja seks komersial atau rekonstruksi mutilasi suami oleh istrinya.

Bagaimana kalau si genteng yang membunuh atau si tampan yang menipu? Tertarikkah media membuatnya menjadi headline? Saya ragu media pernah melakukan eksploitasi terhadap identitas ganteng atau tampan yang dilekatkan pada laki-laki yang melakukan kejahatan. Sepintas terasa menggelikan bila membaca si penjahat gagah, ganteng, atau tampan. Sederhananya, justru itulah indikasi laki-laki yang menguasai media. Apa judul besar koran tertentu bila memberitakan perkosaan? Wanita digagahi, mungkin inilah yang umum. Bahkan dalam hal kekerasan seksual laki-laki terhadap perempuan, media merasa perlu menegaskan bahwa laki-laki-lah yang berkuasa terhadap tubuh perempuan.

Kesadaran bahwa media adalah mekanisme penguasaan patut membuat semua kita lebih sensitif. Tidak hanya terhadap perempuan, sebagaimana yang disinggung oleh tulisan ini, namun juga terhadap kepentingan anak, kelompok minoritas dan marjinal. Termasuk berhati-hati untuk ikut dalam pusaran spekulasi tentang siapa dalang di balik banyak teror.

Explore posts in the same categories: Media Massa dan Kejahatan

One Comment on “PENIPU CANTIK”


  1. Widihkkkk gila buangetzzz
    bacaan ea…..
    hehehehe……😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: