AGRESI ISRAEL, Sebuah Logika Yang Jungkir Balik

Situasi dari hari ke hari di Jalur Gaza, Palestina, benar-benar membuat pikiran rasional sudah tidak lagi dapat memahami logika-logika yang seharusnya dapat berjalan secara sederhana. Dunia yang seakan bungkam terhadap pembunuhan demi pembunuhan, lembaga dunia yang tidak berdaya, dan Israel yang seakan tanpa rasa takut terhadap tekanan dan instrumentasi Hak Asasi Manusia Internasional adalah sebuah logika yang terjungkir balik. Mengapa sejarah eksistensi sebuah negara kecil bernama Israel tidak lepas dari air mata dan darah dapat didiamkan begitu saja oleh dunia. Bahkan oleh bangsa-bangsa Arab yang harusnya lebih memiliki kedekatan emosional dengan bangsa Palestina.

Mengapa lembaga internasional bernama Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menyerahkan kuasanya pada segelintir negara pemilik veto yang dapat semena-mena tanpa alasan yang logis “mematikan” kebijakan yang didukung oleh sebagian besar anggotanya. Sebuah ketidakadilan yang terlembagakan hanya karena segelintir pemegang kuasa tersebut adalah pemenang dalam perang dunia dan shareholder terbesar.

Logika yang terjungkir balik ini semakin parah dengan ketidakadilan diskursus global tentang siapa penjahat dan siapa pahlawan. Hamas, organisasi yang mendapatkan legitimasi secara demokratis melalui pemilihan umum justru dianggap sebagai teroris. Sementara serangan membabi buta Israel, dengan dukungan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya, dianggap sebagai tindakan bela diri terhadap teror Hamas. Adalah sebuah logika sederhana bila bangsa yang tertindas melakukan perlawanan. Terlebih ketika sebuah upaya politik yang kompromistis tidak mampu memperjuangkan hak-hak dasar Palestina sebagai sebuah bangsa yang seharusnya merdeka.

Bila didalami dengan perspektif apapun, pikiran rasional semakin tidak mampu memahami mengapa Israel berani berbuat brutal. Instrumen internasional mengatur dengan jelas bahwa pembunuhan secara sistematis terhadap sebuah bangsa adalah bentuk dari genosida yang dapat ditindak dengan mekanisme peradilan internasional. Selain itu, dalam kerangka kemanusiaan seharusnya pembunuhan demi pembunuhan terhadap anak-anak Palestina adalah suatu peristiwa yang menyayat hati dan mengerikan. Bukankah para tentara Israel juga manusia yang seharusnya memiliki rasa kemanusiaan?

Di dalam negara logika ini semakin jungkir balik dengan skeptisisme dan kecurigaan sejumlah orang yang mengklaim diri sebagai punggawa demokrasi yang coba adil dalam pikiran dan tindakan. Demonstrasi Solidaritas Palestina dianggap sebagai sebuah komoditas politik menjelang pemilihan umum. Selain juga mengatakan banyak persoalan bangsa lain yang perlu diperhatikan ketimbang berlarut-larut dengan semangat anti Israel. Dengan kata lain, kematian yang tidak lagi berderet hitung di Palestina adalah ibarat konflik selebriti berebut anak. Tidak penting!

Hampir tiga minggu sejak akhir Desember 2008 lalu, Jalur Gaza berada di bawah agresi militer Israel. Catatan terakhir Republika, Senin 12 Januari 2009, sudah 879 jiwa melayang akibat penggunaan alat-alat perang canggih dan sangat mematikan secara masif milik Israel. Lebih dari seperempat dari jumlah korban adalah anak-anak. Di pihak lain, Hamas sebagai organisasi perlawanan bangsa Palestina, yang berbeda pilihan perjuangan dengan faksi Fatah, tetap melakukan serangan balasan, termasuk meluncurkan roket ke segelintir wilayah selatan Israel.

Di tengah resolusi 1860 Perserikatan Bangsa-Bangsa, Israel bahkan berencana melancarkan serangan lanjutan dengan kekuatan total. Diduga selama agresi ini Israel menggunakan senjata yang telah dilarang secara internasional. Mengapa Israel seperti tidak punya rasa takut sama sekali terhadap tekanan dunia internasional ini? Berbagai analisis bermuara pada posisi tawar Israel sendiri dalam ekonomi politik global, serta “dukungan” baik langsung maupun tidak dari sekutu utamanya; Amerika Serikat. Setidaknya ini diperlihatkan dengan sikap abstain AS terhadap resolusi tersebut.

Terlepas dari klaim agama-agama samawi terhadap tanah Palestina, khususnya Yerussalem, yang dianggap cikal bakal konflik ini, ada baiknya dipahami bahwa apa yang telah dilakukan Israel dengan kekuatan militernya adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel dalam hal ini tidak ada bedanya dengan Nazi Jerman yang justru dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan besar-besaran bangsa Yahudi selama perang dunia. Kenyataan di Gaza tidak ubahnya seperti pembunuhan masif yang dilakukan secara perlahan. Tidak ada lagi rasa aman di Gaza, tidak ada makanan yang cukup, demikian pula air, obat-obatan, listrik, dan lainnya. Seharusnya kondisi membuka mata dunia bahwa ini bukanlah murni persoalan agama. Namun sebuah keangkuhan dari negara yang pendiriannya “dikawal” oleh ketidakadilan negara pemenang perang, termasuk oleh ketidakberdayaan lembaga internasional bernama PBB. Dalam logika sederhana, bangsa-bangsa di dunia seharusnya mengecam dan menindak dengan tegas dengan mekanisme yang telah diatur secara internasional.

Bila dianggap antara Hamas dengan Israel adalah dua kekuatan yang sedang berperang, meski sulit untuk dipahami bahwa apa yang sedang terjadi adalah peperangan karena kekuatan yang tidak berimbang, agresi Israel jelas merupakan kejahatan perang, sebagaimana dijelaskan dalam Statuta Roma (1998). Kenyataannya, agresi Israel tergolong sebagai tindakan genosida. Dalam pasal 2 Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (berlaku 1951), dan pasal 6 Statuta Roma, dijelaskan, bahwa Genosida adalah perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau untuk sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau keagamaan, seperti (a) membunuh anggota kelompok tersebut, (b) menimbulkan luka fisik atau mental yang serius…(c) secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok tersebut yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau untuk sebagian….

Dalam situasi ketidakadilan, sangat mungkin kekerasan akan menjadi satu-satunya jalan dalam penyelesaian konflik. Dengan kata lain, perlawanan Hamas akan berlanjut lintas generasi. Oleh karenanya, Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu membuat kebijakan yang lebih adil terhadap bangsa Palestina. Eksistensi PBB-pun bukanlah harga mati yang harus dipertahankan terus menerus. Dengan banyaknya kebijakan yang tidak adil, sebagaimana diperlihatkan dalam penyelesaian masalah Palestina dan nuklir Iran, bangsa-bangsa di dunia perlu melakukan reformulasi PBB ke arah yang benar-benar menjadi mekanisme global yang adil.

Di Indonesia, terhadap apa yang terjadi di Palestina beberapa hal perlu dilakukan. Pertama, hilangkan kecurigaan bahwa solidaritas Palestina adalah komoditas politik. Berfikirlah dengan sederhana bahwa setiap saat manusia meregang nyawa di Gaza sekarang ini. Menjelang pemilihan umum ataupun tidak, solidaritas seperti ini adalah sebuah gerakan kemanusiaan yang naluriah. Kedua, pemerintah Indonesia perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam penyelesaian agresi Israel. Tidak cukup hanya mengecam dengan penilaian bahwa tindakan Israel adalah “sesuatu yang berlebihan”. Indonesia, sebagai citra muslim yang moderat dan demokratis, dapat bertindak sebagai motor penggerak bagi mediasi yang lebih efektif di tengah “dilemahkannya” PBB.

Explore posts in the same categories: Realitas

One Comment on “AGRESI ISRAEL, Sebuah Logika Yang Jungkir Balik”

  1. kira Says:

    We will not go down (Gaza tonight)
    (Composed by Michael Heart)

    A blinding flash of white light
    Lit up the sky over Gaza tonight
    People running for cover
    Not knowing whether they’re dead or alive

    They came with their tanks and their planes
    With ravaging fiery flames
    And nothing remains
    Just a voice rising up in the smoky haze

    We will not go down
    In the night, without a fight
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    But our spirit will never die
    We will not go down
    In Gaza tonight

    Women and children alike
    Murdered and massacred night after night
    While the so-called leaders of countries afar
    Debated on who’s wrong or right

    But their powerless words were in vain
    And the bombs fell down like acid rain
    But through the tears and the blood and the pain
    You can still hear that voice through the smoky haze

    We will not go down
    In the night, without a fight
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    But our spirit will never die
    We will not go down
    In Gaza tonight

    “Kira”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: