Dosen gagahi anak tiri 13 tahun

Berita Utama

19-Nov-2008 07:41:54

DEPOK, MONDE: Setelah kasus pencabulan seorang dosen senior di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) terhadap mahasiswinya, kini giliran seorang dosen Fakultas Teknik Mesin Universitas Gunadarma mencabuli anak tirinya yang masih duduk di bangku SMP.

Entah bosan dengan sang istri atau mata gelap, Dita Satyadarma, dosen Fakultas Teknik Mesin Universitas Gunadarma, menggagahi putri tirinya, sebut saja Bunga (13), siswi SMP Mardi Waluyo Cibinong. Ironisnya, Bunga adalah anak dari Sundari, yang juga beraktivitas sebagai salah satu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma. Sementara Dita berstatus suami ketiga dari Sundari.

Kasus dugaan pelecehan seksual ini sudah masuk ke meja hijau Pengadilan Negeri Cibinong. Hanya saja, setiap kali persidangan digelar, terdakwa Dita selalu berkilah. Dia tidak pernah mengaku telah menggagahi anak tirinya.

“Dalam beberapakali persidangan dia [Dita—red] selalu mengelak mengakui perbuatan amoral itu. Padahal, berdasarkan keterangan keponakan saya, dia telah lima kali diajak melakukan hubungan layaknya suami istri,” kata bibi korban, Yekti kepada Monde kemarin.

“Meski sudah ada bukti, dia tetap aja nggak ngaku. Padahal bukti sudah ada. Seperti visum dari dokter, selimut dan agenda pengeluaran karena setiap kali akan melakukan perbuatan tersebut pagi harinya dia memberikan sejumlah uang,” paparnya.

Dijelaskan Yekti, tindakan tidak senonoh tersebut dilakukan di rumah kediaman bapak-anak tersebut di Perum Bojong Depok Baru, Jl. Raya Sukahati, Kecamatan Cibinong, sebelum ulang tahun Bunga, April lalu. Dijadwalkan persidangan lanjutan kasus asusila sang dosen tersebut akan dilakukan besok, Kamis (20/11) di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong pukul 14.00 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi korban termasuk Yekti.

Bukan pedofil

Berdasarkan tinjauan psikologis, apa yang dilakukan oleh ayah tiri terhadap anak tirinya itu tidak bisa dikatakan pedofil—kelainan seks, orang dewasa yang memuaskan nafsu birahinya terhadap anak kecil. Psikolog UI, Ahmad Syafiq, mengatakan secara fisik anak perempuan umur 14 tahun sudah seperti gadis remaja.

Menurutnya, kasus serupa ini namanya incest—yakni hubungan seks sedarah yang dilakukan dalam keluarga yang secara moral tidak sepatutnya dilakukan. “Ini masalah tidak bisa mengendalikan nafsu,” katanya.

Umumnya, sambung dia, pelecehan seksual seperti ini, memang biasanya dilakukan oleh orang yang dikenal. “Kasus serupa ini bisa terjadi karena korbannya tidak berani untuk mengatakan tidak!” Sementara itu, berdasarkan tinjauan kriminologis, perlakuan ayah tiri terhadap anak tirinya ini terjadi karena faktor memanfaatkan ketergantungan. “Dalam kasus ini tidak mungkin si anak yang duluan memprovokasi birahi si ayah. Si anak adalah korban,” kata kriminolog UI, Iqrak Sulhin, dihubungi Monde via telepon, kemarin.

Menurut dia, anak berumur di bawah 18 tahun belum bisa mandiri. Dia pasti punya rasa ketergantungan kepada orang lain. “Seperti uang misalnya. Dalam posisi seperti ini, si laki-laki memanfaatakan rasa ketergantungan itu dengan dalih seharusnya si anak berterima kasih. Biasanya tindakan seperti disertai dengan ancaman-ancaman.”

Bahkan Iqrak berasumsi, tidak menutup kemungkinan, salah satu ancamannya adalah menceraikan ibunya. Mengingat perceraian adalah stigma buruk. “Apalagi si ibu sudah beberapakali bercerai. Hal ini bisa saja dijadikan senjata ancaman…”

Lebih daripada itu, karena kasus ini sudah masuk ke pengadilan, hakim harus tegas bersikap dalam memberikan hukuman.(alp/wen)