Membaca Kasus Ryan secara Proporsional

Tulisan ini dimuat di Rubrik Analisis Kriminalitas Suara Pembaruan, 6 Agustus 2008

Hingga saat ini publik terus mengikuti dengan saksama perkembangan kasus pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Ryan. Menurut penulis, ada beberapa hal yang membuat publik begitu tertarik terhadap kasus ini. Pertama, kenyataannya bahwa pembunuhan yang disertai dengan mutilasi bukanlah kasus kejahatan yang banyak terjadi di masyarakat. Kedua, sifat sadis dari kasus ini. Di satu sisi, pembunuhan adalah kejahatan yang sangat diperhatikan publik, sehingga pembunuhan yang disertai oleh mutilasi korban akan menambah “kengerian” kasus serta menambah keingintahuan publik.

Ketiga, secara berkebetulan pelaku dari pembunuhan dengan mutilasi ini adalah seorang homoseksual. Keempat, secara mengejutkan kasus ini terus berkembang hingga ditemukannya “kuburan massal” 10 korban lainnya yang diduga telah dibunuh sebelumnya, di Jombang, kampung halaman pelaku. Inipun masih menyimpan misteri karena beberapa melaporkan kehilangan anggota keluarga dan diduga terkait dengan kasus Ryan.

Dari sekian faktor yang membuat kasus ini menarik perhatian publik, beberapa catatan lain muncul tentang bagaimana seharusnya publik dan khususnya media massa menempatkan kasus ini secara proporsional. Sekarang ini ada beberapa kecenderungan media yang justru menjurus pada viktimisasi terhadap Ryan sebagai pelaku.

Perlu diakui bahwa kasus ini memang sangat mengejutkan karena memperlihatkan sisi gelap manusia dengan amat mengerikan. Jumlah korban yang banyak, di antaranya dimutilasi, dan banyak lainnya di kubur massal setelah dibunuh dengan kejam, memperlihatkan bahwa kasus ini bukan kasus pembunuhan biasa. Namun, permasalahan pertama muncul ketika media massa dengan yakin menyatakan bahwa ini adalah serial killer (pembunuhan berantai).

Dalam sebuah wawancara dengan harian ini, penulis menyampaikan bahwa kasus ini masih jauh bila dikategorikan sebagai pembunuhan berantai. Bila hanya mengandalkan pola dari aspek jumlah korban dan interval waktu bahwa pembunuhan terhadap para korban tidak dilakukan dalam satu waktu, secara sederhana kasus ini memang dapat dilihat demikian. Namun, bila didalami lebih jauh banyak aspek lain yang harus “dipenuhi” untuk mengatakan kasus ini sebagai pembunuhan berantai.

Tulisan James Alan Fox dan Jack Levin, 1998 berjudul Multiple Homicide: Patterns of serial and mass murder, dapat dijadikan rujukan. Dalam tulisan ini memang dijelaskan, bahwa serial murder melibatkan pertalian 4 (empat) atau lebih pembunuhan yang dilakukan oleh seorang atau beberapa pelaku yang memiliki jarak/jangka waktu dalam hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Namun, Fox dan Levin juga menekankan perlunya melihat aspek motivasi di balik pembunuhan ketimbang hanya menekankan pada aspek jumlah korban dan interval waktu.

Dengan mengacu pada Skrapec (1996), Fox dan Levin menjelaskan, bawah power and control adalah motif paling kuat di balik serial murder. Yaitu sifat menggetarkan, kepuasan seksual atau dominasi yang diperoleh melalui kontrol terhadap kehidupan dan kematian dari korban. Pelaku (umumnya) “mengikat” korban untuk melihat mereka kesakitan, diperkosa, dimutilasi, disodomi, dan melakukan tindakan degradatif lainnya kepada korban agar pelaku merasakan superioritas. Dengan kata lain, pelaku tidak hanya menikmati tindakan membunuh itu sendiri, namun juga merasakan “kegembiraan” ketika korban menjerit dan meminta ampun. Oleh karena itu, pembunuhan dalam hal ini merupakan bentuk dari “ekspresi” dan tidak berbentuk instrumental (seperti pembunuhan yang dilakukan dalam perampokan).

Mengacu pada Dietz (1986) Fox dan Levin juga menjelaskan bahwa atas pembunuhan yang dilakukannya, pelaku juga memerlukan dan menikmati publikasi. Ini sekaligus menjadi instrumen bagi pelaku untuk memperkuat kekuasaan dan kontrol. Dengan melihat latar motivasi ini, umumnya ahli mengatakan bahwa pembunuhan berantai sebagai gejala psikiatrik yang dilakukan oleh individual yang menderita gangguan kejiwaan (psikopatik).

Statistik

Pertanyaannya, apakah ini terjadi pada Ryan? Dalam hal ini penulis menggarisbawahi beberapa hal. Pertama, analisis yang dilakukan oleh para ahli (psikiater, kriminolog, dan banyak lainnya) tidaklah salah karena melihat pada pola. Fox dan Levin juga menekankan perlunya kajian kuantitatif (yang berujung pada pola) dalam analisis serial killer. Inilah mengapa Hickey (1997) memaparkan sejumlah statistik yang kemudian dijadikan banyak orang sebagai referensi ketika membicarakan serial killer.

Menurutnya, 84 persen pelaku serial killer adalah laki-laki, dan umur rata-rata saat pertama kali melakukan pembunuhan adalah 27,5 tahun. Sebanyak 61 persen serial killer menargetkan secara eksklusif pada orang asing, 15 persen setidaknya 1 (satu) orang asing dari daftar korban. 14 persen pelaku beroperasi pada lokasi spesifik (seperti kantor atau rumah), 52 persen pada area yang sedikit lebih luas (seperti kota), dan 34 persen berkelana (nomadic serial killer).

Hickey juga menjelaskan, bahwa male serial killer (pelaku laki-laki), umumnya menyeleksi korban berdasarkan pada sejumlah fantasi seksual, sementara bagi female serial killer (pelaku perempuan) umumnya membunuh korban yang memiliki hubungan ketergantungan padanya (seperti pembunuhan terhadap anak, atau pembunuhan yang dilakukan oleh pekerja seks komersial terhadap klien).

Kedua, meski pola tersebut dapat digunakan secara asumtif di Indonesia (karena konteks penelitian Fox dan Levin serta Hickey berbeda), publik dan para ahli juga perlu melihat kekhususan dari kasus Ryan. Tekanannya adalah perlu pendalaman lebih jauh, single case study, terhadap pelaku untuk kemudian dapat diperoleh informasi yang valid. Termasuk untuk memperjelas apakah kejahatan yang dilakukan oleh Ryan termasuk dalam psychopathic serial killer, yang umum dipersepsikan media dan publik sekarang ini.

Selain kehati-hatian dalam menggolongkan kasus Ryan ke dalam psychopathic serial killer, hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan orientasi seksual dengan pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. Sejumlah analisis yang melihat secara asumtif bahwa polemik dalam hubungan sesama jenis pelaku merupakan salah satu konteks yang lain dalam kasus ini, tidaklah salah terkait dengan argumentasi forensik yang memperlihatkan mutilasi korban lebih memperlihatkan aspek kemarahan daripada hanya menghilangkan jejak. Namun, publik dalam hal ini harus memahami bahwa tidak secara otomatis berarti homoseksual selalu potensial pelaku kejahatan sadis.

Hal lain yang harus diperhatikan untuk melihat kasus Ryan secara proporsional adalah individualisasi reaksi terhadap kejahatan. Polisi hingga kini masih terus mengembangkan kasus ini hingga dapat menjawab teka-teki mungkinnya keterlibatan pihak lain dalam kejahatan ini. Hal ini tidak berarti publik, media massa khususnya, boleh mengembangkan kasus ini dengan “versi” sendiri. Ulasan media tentang latar belakang keluarga pelaku sangat mungkin menggiring publik turut menyalahkan keluarganya dalam keseluruhan episode kejahatan yang dilakukan Ryan.

Terakhir, meski tidak sepenuhnya terkait, media massa jangan sampai berlarut-larut dalam kasus Ryan. Dugaan korupsi “berjemaah” di Dewan Perwakilan Rakyat atau kasus Jaksa Urip-Artalyta yang mengakibatkan korban dan kerugian yang jauh lebih parah dari seorang Ryan justru memerlukan peliputan dan pengawasan yang lebih luas lagi.

Explore posts in the same categories: Realitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: