Rusuh di Penjara: Temuan Ganja 1 Kg Memicu Kerusuhan

KOMPAS (Kamis, 13 Desember 2007)

Padang, Kompas – Temuan ganja seberat 1 kilogram di kamar Adi Warman alias Matong, salah seorang penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A, Kota Padang, Sumatera Barat, memicu kerusuhan antara penghuni dan petugas LP, Rabu (12/12) sekitar pukul 09.30.

Kejadian berawal dari operasi petugas LP yang menerima info ada ganja masuk LP. Petugas LP akhirnya menemukan ganja di Blok A Kamar 8 yang ditempati Adi Warman dan membawanya untuk diinterogasi.

Rupanya, ratusan penghuni LP tidak terima dengan “penangkapan” itu sehingga mereka kemudian melempari petugas dengan batu. Semua petugas yang merasa terdesak segera keluar LP. Para narapidana kemudian melempari kaca-kaca di dalam LP dengan batu. Akibatnya, kebaktian narapidana beragama Kristen serta kursus Kejar Paket A dalam LP langsung bubar.

“Ganja itu sudah seperti barang kebutuhan kami di dalam dan kami pakai bersama-sama. Jadi, kami tidak rela kalau ada anggota yang ditangkap,” tutur DS, narapidana yang terlibat tawuran.

Serangkaian tembakan peringatan dari petugas tidak dihiraukan narapidana yang mengamuk. Baru setelah polisi datang ke lokasi, aksi para penghuni LP bisa diredakan. Seorang narapidana, Kamaruzaman, terkena tembakan di lengan kanan dan dilarikan ke rumah sakit.

Sebanyak 31 narapidana yang diduga kuat sebagai pemicu kerusuhan dipindahkan dari LP tersebut ke sejumlah penjara yang ada di jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Selanjutnya, ke-31 orang itu akan dipisahkan ke LP atau rumah tahanan di Sumbar.

Setelah kerusuhan mereda, polisi yang menggeledah semua sel menemukan puluhan telepon seluler, 40 charger ponsel, puluhan kartu ponsel, 1 pisau, 3 gergaji, 1 sendok logam, dan obeng.

Pelaksana Tugas Kepala LP Kelas IIA Padang Marhendro Aliwibowo mengakui ada kemungkinan penjagaan petugas tidak ketat. Jumlah penghuni LP saat ini 641 orang, sedangkan jumlah petugas LP hanya 150 orang.

Kepala Kepolisian Kota Besar Padang Komisaris Besar Tri Agus Heru mengakui jumlah penghuni LP tersebut jauh melebihi kapasitas. “Seharusnya maksimal 400 orang, tapi penghuninya ada 641 orang,” katanya. (ART)

Explore posts in the same categories: Penologi

4 Comments on “Rusuh di Penjara: Temuan Ganja 1 Kg Memicu Kerusuhan”

  1. iwansulistyo Says:

    Yah, akhirnya LP Muara bikin “manufer”.
    Memang selama ini di sana sangat luput dari pemberitaan media lokal dan nasional.
    Kemelut yang bergulir kian meradang.
    Suatu “kemelut klasik” yang senantiasa mengisi ruang-ruang sel di tiap LP di Nusantara.

  2. Marwan Adli Says:

    Resiko tugas penegakan hukum, kadang kita harus berhadapan dengan situasi seperti itu, apalagi berhadapan dengan sindikat narkoba kita harus tegas dan konsisten, kalau tidak Lapas /Rutan akan senantiasa menjadi tempat yang aman bagi pelaku tindak pidana narkoba untuk mengkonsumsi maupun menjual sesama dan di luar Lapas. Saran : penegakan hukum berupa penggeledahan tidak selalu harus bersama polisi, petugas Lapas juga dapat melakukannya dengan lebih soft tapi efektif.Mari kita perangi narkoba di dalam Lapas/Rutan secara konsisten dan terus menerus niscaya Lapas /Rutan akan semakin baik imagenya di masyarakat. Semoga.

  3. lawrence siahaan Says:

    Lagi-lagi ada narkoba di penjara.. masalah yang tak terselesaikan, bahkan mungkin takkan pernah terselesaikan. Metode pembinaan yang manusiawi begitu dikedepankan mungkin perlu dilakukan penyesuaian kembali dengan mengetahui “siapakah yang dibina.”. Ingatlah kembali bahwa konsep first crime offender adalah kekilafan dan secondary crime offender is the true criminal. Pernakah terpikir untuk mencari tahu termasuk kategori dimanakah orang-orang yang terlibat kerusuhan di dalam LP tersebut?
    Saya percaya bahwa first crime offender adalah orang yang tepat untuk dibina,, tetapi ketika ia menjadi secondary crime offender adalah indikasi bahwa ia tidak bertobat dan tidak berusaha atau gagal melakukan perbaikan terhadap perilaku jahatnya, maka metode PENGHUKUMAN (yang tidak menyimpang dari rasa kemanusiaan tentunya) perlu diberikan.

  4. Adnan Adhy Kurniawan Says:

    bung lawrence benar, yang justru saya sesalkan adalah pengaruh HAM yang kebablasan sehingga mempersulit ruang gerak petugas lapas, terutama bila terkait dengan “inmates” WNA. Untuk Pelaksana Kepala LP dan mungkin untuk semua KALAPA/KARUTAN, jangan selalu mengkambinghitamkan penjagaan, konotasi “penjagaan” didalam LP menunjuk pada petugas/regu jaga, terkadang justru ulah pejabat-pejabat seperti anda yang merusakkan tatanan dalam LP/RUTAN.
    ada tradisi sistem komando dalam LP/RUTAN dan apabila anda menyalahkan penjagaan justru berarti anda yang gagal melakukan pembinaan, pengawasan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: