MENCIPTAKAN KOS-KOSAN YANG AMAN

Depok dewasa ini berkembang dengan amat pesatnya. Jika dahulu jalan Margonda masih terlalu sempit dengan pohon-pohon besar di kiri-kanan dan toko-toko yang masih jarang, sekarang jalan ini justru terlihat sempit dengan perkembangan di kiri dan kanannya. Jika dahulu hanya ada Mal Depok, Plaza Depok, dan beberapa pertokoan lainnya, sekarang Depok memiliki beberapa Mega Mal yang bahkan berdiri dalam waktu yang tidak jauh berbeda dan berhadap-hadapan. Sebut saja Depok Town Square, Margo City Square, dan ITC Depok carrefour-nya.

Dibangunnya kampus baru Universitas Indonesia di Depok dapat dikatakan pemicu utama perkembangan Depok seperti sekarang ini. Diawali dengan munculnya unit-unit usaha kecil seperti tempat foto copy, warung makan, warung telekomunikasi, warung internet, hingga munculnya kos-kosan atau hunian mahasiswa. Unit-unit usaha ini diselenggarakan umumnya oleh penduduk lokal, meskipun pada akhirnya dijadikan ladang usaha dengan investasi yang besar dari penduduk Jakarta. Melalui investasi yang serius, unit-unit usaha tersebut kini berkembangan sangat pesat dan semakin variatif. Meningkatnya kebutuhan akan hunian di depok bahkan menarik investor untuk membangun apartemen.

Akibat perkembangan ini, Depok berhadapan dengan sejumlah masalah. Salah satu permasalahan yang menjadi perhatian adalah peningkatan kuantitas maupun kualitas kejahatan di Kota Depok. Terutama kejahatan-kejahatan bermotif ekonomi, seperti pencurian. Meskipun tidak berarti kejahatan kekerasan, seperti penganiayaan dan pembunuhan tidak mengkhawatirkan sama sekali. Kasus pembunuhan bahkan pernah terjadi di dalam kampus UI. Demikian pula dengan pemerasan dan percobaan perkosaan. Hilangnya kendaraan roda dua dan roda empat juga menambah catatan kejahatan di kampus UI. Pasca peristiwa-peristiwa kejahatan ini pihak universitas semakin memberikan prioritas bagi keamanan di dalam kampus. Beberapa perubahan dilakukan dalam pola kerja UPT PLK (Unit Pelaksana Teknis Pengamanan Lingkungan Kampus), serta ditambahnya sejumlah pos-pos pengamanan di kampus terutama di tempat-tempat yang selama ini dianggap rawan. Terlepas dari sifatnya yang tambal sulam, beberapa kebijakan universitas ini perlu disambut positif.

Salah satu target kejahatan ini adalah hunian mahasiswa, seperti kos-kosan, kontrakan, dan asrama mahasiswa, yang berada di dalam dan di luar lingkungan kampus UI. Kejahatan yang terjadi di hunian-hunian mahasiswa ini tergolong unik. Diperlukan timing yang betul-betul tepat untuk melakukan kejahatan di tempat yang diasumsikan relatif ramai. Dalam kenyataannya, kecuali kontrakan, asrama mahasiswa (seperti asrama mahasiswa UI) dan kos-kosan biasanya memiliki penghuni yang banyak. Di sekitar kampus UI, satu kos-kosan minimal memiliki 5-10 kamar dan banyak pula kos-kosan yang memiliki puluhan kamar. Asrama UI bahkan memiliki ratusan kamar. Para mahasiswa yang menjadi penghuni akan variatif berdasarkan angkatan masuk, fakultas hingga jurusan. Artinya, jarang sekali hunian-hunian tersebut benar-benar kosong atau tidak berpenghuni, kecuali mungkin pada saat lebaran. Namun kejahatan justru banyak terjadi di hunian-hunian tersebut. Kenyataan ini mengundang pertanyaan. Mengapa dan bagaimana kejahatan dapat terjadi di hunian mahasiswa, serta bagaimana strategi untuk mencegahnya?

Jika diperhatikan polanya, kejahatan yang banyak terjadi di hunian mahasiswa adalah pencurian. Sering sekali didengar mahasiswa kehilangan komputer, televisi, radio, hanphone, sendal, sepatu, atau pakaian. Ada yang hilang pada saat pemiliknya sedang berada di luar dan yang justru membingungkan adalah ketika si pemilik justru sedang berada di tempat. Waktu kejadian baik pada malam hari maupun siang hari, serta pada jam-jam nanggung seperti magrib atau subuh. Dalam pandangan kriminologi, kejahatan-kejahatan yang terjadi di hunian mahasiswa lebih banyak disebabkan oleh terbukanya kesempatan. Mulai dari yang bersifat human error dan minimnya penjagaan formal hingga kesempatan yang diciptakan oleh disain fisik lingkungan.

Secara sederhana, kesempatan terjadinya kejahatan terbuka lebar karena kelengahan penghuni. Membiarkan pintu kamar terbuka pada saat mandi atau ketempat lain yang tidak jauh, seperti ke kantin, atau menaruh barang-barang berharga di tempat terbuka. Tidak tersedianya mekanisme pengamanan oleh pemilik kos juga turut memperbesar peluang terjadinya kejahatan. Sementara kesempatan yang terkait dengan disain fisik lingkungan adalah seperti banyaknya tempat-tempat tersembunyi atau jauh dari kemampuan penghuni untuk mengawasinya. Seperti kamar yang berada di pojok atau belakang yang jauh dari bagian depan atau belakang hunian yang diasumsikan ramai. Penataan taman di sekitar kos juga berpengaruh dalam hal ini. Rimbunnya tanaman dapat menurunkan kemampuan para penghuni untuk saling mengawasi lingkungannya. Dibangunnya tembok-tembok tinggi oleh hunian tertentu tidak selamanya memberikan efek positif. Tembok yang tinggi justru meminimalisir kemampuan orang untuk mengawasi apa yang terjadi di sekitarnya. Penerangan yang minim juga turut memperbesar kesempatan.

Satu hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kejahatan-kejahatan di hunian mahasiswa ini adalah keberadaan pelaku sebagai seseorang yang rasional. Pelaku selalu mempertimbangkan untung rugi tindakan yang akan dilakukannya. Seperti berapa besar nilai barang yang dicuri dan berapa besar resiko yang akan ditanggungnya dalam melakukan aksi. Seseorang akan melakukan pencurian meskipun nilai barang yang diambil tidak terlalu tinggi namun resiko diketahui atau tertangkap sangat kecil. Demikian sebaliknya. Dalam banyak kasus, faktor resiko ini lebih diutamakan oleh pelaku daripada faktor nilai barang yang dicuri.

Sebagai seseorang yang rasional, pelaku pencurian akan melakukan persiapan sebelum melakukan aksi. Seperti memetakan lokasi dan karakteristik penghuninya. Termasuk dalam hal ini adalah mengintai “isi” lokasi, misalnya apakah terdapat hanphone, laptop, komputer, televisi, atau sepeda motor. Pelaku akan melihat kapan penghuni tidak berada di kamar, kapan penghuni mandi, pergi ke kamar temannya, atau meninggalkan kos untuk makan, dan lainnya. Serta bagaimana kebiasaannya, sering mengunci kamar atau justru tidak. Setelah diidentifikasi, pelaku akan menentukan target terkait dengan mana yang paling rendah resikonya. Perlu dicatat, pencurian terhadap isi kamar lebih banyak terjadi pada siang hari dan saat korban berada di atau sekitar kos-kosan. Sementara terhadap barang-barang yang diletakkan di luar kamar, seperti sepatu, sendal, atau pakaian lebih banyak terjadi pada malam hari.

Pelaku dengan pola kejahatan seperti ini merupakan seseorang yang sering berada di tempat kejadian. Tanpa bermaksud memberikan stigma atau menaruh kecurigaan yang terlalu besar, beberapa pelaku potensial kejahatan di hunian mahasiswa adalah seseorang atau sejumlah orang yang memiliki akses masuk ke dalam hunian tersebut. Salah satu di antaranya adalah teman atau seseorang yang dikenal oleh penghuni itu sendiri. Mereka-mereka yang memiliki akses akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kondisi hunian tersebut. Secara kriminologis, jarang sekali ada pencuri yang gambling tanpa mengetahui terlebih dahulu resikonya.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah aspek sosial. Kecenderungan mahasiswa yang individualis, tidak bergaul baik dengan temannya maupun dengan masyarakat di sekitar kos-kosannya justru memperbesar peluang terjadinya kejahatan. Aspek ini penting untuk meningkatkan sensitifitas kewilayahan. Dengan bergaul akan lebih mudah bagi para penguni dan masyarakat sekitar kos untuk mengetahui siapa orang asing yang berada di sekitar wilayahnya. Perkembangan Depok yang demikian marak ini tidak akan berdampak banyak bagi keamanan hunian mahasiswa bila kesempatan terjadinya kejahatan mampu diminimalisir.
Kata Bang Napi: Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat dari pelakunya, tapi karena adanya kesempatan, waspadalah….waspadalah.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

6 Comments on “MENCIPTAKAN KOS-KOSAN YANG AMAN”

  1. kira Says:

    comment sense!!!

  2. kriminologi Says:

    comment sense atau common sense? Biasanya analisis situasional dalam pencegahan kejahatan sangat dekat dengan kehidupan keseharian. Tidak terlalu rumit secara teoritis. Oleh karenanya, strategi yang dikembangkan pun terkesan sederhana. Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Salam

  3. kira Says:

    karena tulisan anda tidak seperti layaknya tulisan ilmiah, dimana

    Tulisan ilmiah memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis yang kuat barulah bisa dibuatkan kerangka berpikir untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas, bahkan kalau perlu dikuantifikasikan. Biasanya, tulisan-tulisan ilmiah ini termasuk disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.

    Kekuatan, ketajaman, dan kejernihan berpikir sangat menentukan hasil akhir yang agak “berat” dan “datar” karena segala macam unsur subjektif harus diminimalkan, terutama yang akan menimbulkan logika yang miring. Tulisan macam ini adalah tulisan yang berdasarkan pikiran. Bias diminimalisasi sedemikian rupa dengan pengujian-pengujian hipotesa dan segala macam tes logika yang miring. Tulisan ini mengandalkan pikiran, hampir tanpa unsur perasaan alias subjektifitas, kecuali dari bias latar belakang penulisnya dan ilmu yang dipelajarinya.

    tulisan anda cenderung ke-arah tulisan ngepop saja.

  4. kriminologi Says:

    Ilmiah atau tidaknya sebuah tulisan tidak tergantung dalam bagaimana seseorang menyajikan tulisannya. Jika itu terjadi, saya kira yang membacanya yang belum mengerti apa hakekat dari sebuah tulisan yang ilmiah itu.

    Arswendo, dalam tulisannya tentang Life History dirinya selama berada di penjara memberikan suatu ulasan yang ringan dan sederhana tentang apa itu penjara dan bagaimana masyarakat dan budaya yang berkembang dalam penjara. Tulisan yag sederhana tersebut didasarkan atas amatan langsung dirinya terhadap masyarakat dan budaya penjara. John Perkins (2004), dalam The Confession of the Economic Hit Man, juga memberikan tulisan yang sederhana, sentimentil dan emosional. Tulisannya ini dibuat atas data, informasi, serta keterlibatan dirinya sendiri dalam apa yang dia tuliskan. Bahan kalau sempat membaca Steven Hiatt (2007), A game as Old as Empire, di sana kita dapat melihat data-data yang terukur serta teruji tentang apa yang disampaikan oleh Perkins.

    Banyak contoh2 tulisan lain yang sederhana, namun penuh muatan. Saya kira amatlah mudah untuk membedakan antara novel dengan tulisan sederhana semacam feature media namun ilmiah.

  5. Veronica Says:

    Gw bukanya ga suka Depok maju, tapi bukan ini khan yg qt harapkan. Rame boleh tapi jgn rawan penjahat. Polisi Depok kayanya harus berkeliaran dimana2 dech. Dari pada banyak korban lageeee …..


  6. Yth; prevent crime based on social Justice
    saya alumni Krim ui 2006…setelah lama saya (hampir 3 tahun) lulus dari Krim ui 2006. banyak hal-hal tentang ilmu dan tema2 kriminologi yang sudah mulai terlupakan yang. untuk itu kiranya dengan senang hati kepada tim pengelola prevent crime based on social Justice agar dapat mengirimkan artikel2 prevent crime based on social Justice via email saya ini…agar wawasan Kekeriminologian saya dapat terasah kembali, dan saya dapat sharing dengan tim
    terima kasihprevent crime based on social Justice
    Yal Robiansyah (BOGOR)
    0852 164 18088


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: