Discussion (1)

Menurut anda, apakah alternatif solusi yang tepat bagi penyelesaian masalah Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia dewasa ini?

According to your opinions, what is the best alternative for the solution of prisons problems in Indonesia now days?

Responses to “DISKUSI”

arie Says:

May 28th, 2007

menurut saya mas yang musti dilakukan untuk menyelsaikan masalah kepenjaraan pertama adalah niat dari pemerintah untuk mengurusi masalah ini. yang saya lihat pada saat ini meskipun ilmu penologi sudah ada di indonesia namun permasalahan penjara tidak kunjung selesai dan ini karena SDM yang mampu ini tidak diberdayakan dengan maksimal. selain itu yang saya rasa perlu adalah pengsosialisasian mashab reingrasi sosial yang saya rasa kurang “booming” di masyarakat, hal ini terlihat dari spirit penghukuman detterence yang masih kental di masyarakat. Mengapa saya beranggapan demikian karena menurut saya ketika kita menanyakan kenapa seorang penjahat harus di penjara kebanyakan akan menjawab “supaya kapok, kalo bisa hukumannnya makin keras makin baik, biar orang lain nggak ada yag berbuat hal serupa”. Memang asumsi diatas belum dilengkapi dengan penelitian lapangan hanya sekedar obrolan warung kopi saja dengan teman-teman saya yang tidak mempelajari ilmu kriminologi (terutama mengambil mata kuliah kriminologi). dan yang terkahir adalah permasalahan penjara sebagai organisasi (otonomi,tekhnologi,social control) yang harus segera dibenahi.
Saya sangat optimis Indonesia mampu menyelesaikan masalah ini, namun yang menjadi pertanyaan maukah kita menyelesaikan permasalahan didalam penjara??

Nadia Says:
May 28th, 2007

Kalo saya bilang c buat nyelesein masalah-masalah itu pertama, penjara mesti jadi badan otonom, ini berarti dia harusnya bisa berdiri sensiri lepas dari Dirjen Pemsyarakatan soalnya dengan jalan ini saya rasa penjara itu bisa ngambil sendiri langkah-langkah yang kiranya emank pas buat nanganin kondisi-kondisi yang sebener-benernya terjadi di sana. Soalnya kalo mereka masi ada di bawah Dirjen kan maw ngapa2in jadi susah mesti nunggu keputusan dari sana dulu. Udah gitu kan orang-orang Dirjen itu bisa dibilang ga tau kerak-kerak permasalahan di penjaranya jadi ketika keputusan diambil mungkin aja sebenarnya ga sesuai buat diterapin…Trus yang kedua,,napi-napi di penjara itu mesti bener-bener diberdayakan jd mestinya dibikin kegiatan-kegiatan yang bisa bikin mereka ga stres, ga bengong doank, misalnya kayak bikin barang-barang yang bisa dijual di pasaran . Soalnya kan rata-rata masalah kekerasan yang ada di penjara itu kalo menurut sya sebenernya pelampiasan dari tekanan-tekanan yang mereka hadepin…Terus yang ketiga,saya sependapat sama mas,,ombudsman penjara itu perlu biar keluhan-keluhan yang ada di penjara itu bisa ketauan trus ditindaklanjuti bahkan kalo perlu dicari sampe ke akar-akarnya…Jadi,,intinya si dari ketiga solusi ini pemerintah mesti tanggap,,pemerintahnya tuh mesti bener-bener serius nanganin ini…

Explore posts in the same categories: Kompilasi Diskusi

8 Comments on “Discussion (1)”

  1. Sindy Says:

    Menurut saya tidak hanya Lembaga Pemasyarakatan yang mengalami hal seperti ini. Transportasi, pendidikan,dll, pun nyaris tidak jauh berbeda nasibnya. Kurang mendapat perhatian.
    Belum adanya kajadian/kondisi yang membuat pemerintah “melek” untuk serius memperbaiki kondisi yang ada saat ini, mungkin itu jawabannya.
    Sebagai contoh transportasi, setelah berulang kali terjadi kecelakaan, baru pemerintah ribut2 mempermasalahkan kondisi transportasi di Indonesia. Padahal kejadian itu hanyalah fenomena gunung es yang tidak perlu terjadi apabila ditangani dengan serius.
    Apabila pemerintah commit untuk menangani permasalahan yang ada di negeri ini ditambah dengan adanya sistem manajemen yang berkualitas seperti ISO 9001, saya optimis Indonesia akan mampu menghadapi permasalahan sepelik apapun.

  2. kriminologi Says:

    Salam

    Mba Sindy terima kasih atas responnya.
    Saya kira apa yang mba Sindy sampaikan benar adanya. Masalah penjara ini sebenarnya dapat menjadi cerminan bangsa ini secara umum. Banyak masalah lain yang juga tidak tertangani dengan baik, padahal sudah terjadi lama. Pada akhirnya kita harus menuntut political will dari para penguasa dan tetap melakukan tekanan kepada mereka untuk melakukan perubahan.

  3. napi1708 Says:

    Met kenal..mas iqrak….salut dengan kepedulian anda tentang penjara dengan tulisan-2 anda yang berbobot, saya ingin menyampaikan fakta klasik dlm diskusi ini, yang mana pada faktanya memang benar yang namanya penjahat ya harus dimasukkan penjara, agar perbuatannya yang salah dapat dibenarkan, tapi saat ini sudah jadi trend ” bukan hanya orang jahat atau keliru dalam perbuatannya, tapi para kambing hitam ( yang sengaja dijebloskan kepenjara karena politis, korupsi yang tidak mereka buat dan demi prestise para penegak hukum )……., & berhadapan dengan filosofi 10 Prinsip Pemasyaraktan, maka mau tidak mau dia harus tetap menyandang cap koruptor, walaupun dia bukan koruptor… atau lain sebagainya…., walaupun petugas lapas sadar, bahwa narapidana juga sama-2 manusia, tapi mental bobrok yang sudah kental dari para petugas penjara…. maka penjarapun jadi tempat untuk AJANG BISNIS….. mau apa…. ini sudah turun temurun, dari sekolah di AKIP sampai jadi DIRJEN…. mereka semua mengeluarkan uang, maka merekapun akan berlomba-lomba mencari pengembalian uang dari para narapidana…dengan keluhan klasik…” GAJI TIDAK CUKUP “….. tapi lucunya… banyak pegawai penjara yang beristri dua… anehkhan….. bermobil dan lain-lain fasilitas yang seharusnya tidak mungkin diterima kalau mereka bekerja dengan memberlakukan dengan benar…. JADILAH GAYUNG BERSAMBUT…… NAPI butuh kenyamanan dan keamanan walaupun tetap dalam tembok….. PETUGAS butuh tambahan uang, maka terjadilah transaksi-transaksi yang mengakibatkan…… ATURAN dalam PENJARA tidak akan berjalan dengan baik…. adapun kalau ada SIDAK… dari Institusi diatasnya…. adalah hanya proforma saja… yang ujung-2nya juga pemberian UPETI kepada Institusi diatasnya…. & yang jadi korbannya juga NAPI lagi….. emangnya cukup gaji mereka buat bayar UPETI…. perbuatan-2 manipulatif seperti ini……adalah yang terjadi di penjara, sebagai miniatur kehidupan masyarakat diluar tembok….., maka makin terperaslah… segala finansial dan spriritual para NAPI…. karena ulah…. dari Petugas Penjara yang tidak bermoral…. dan inilah relaitas kehidupan hampir disemua penjara di Indonesia….. sama khan dengan kehidupan diluar tembok penjara…, jadi sangat sulitlah… kalau hanya melakukan pembenahan satu sisi, karena segala aspek kehidupan kita, menuntut kenikmatan dengan mendapatkan uang tambahan tak peduli HALAL atau HARAM….

    Tapi… NAPI-Narapidana Indonesia…. tetap akan optimis berjuang dari yang paling kecil dan sempit, yaitu berjuang untuk mendapatkan hak-hak NAPI di Indonesia, dan saya sangat salut…. sebagai sesama STAKEHOLDER… walaupun terpisah…. kita mempunyai pemikiran yang sama….. MET BERJUANG juga utk sdr. IQRAK…. semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan barokah kepada perjuangan kita semua… AMIN YA ROBBAL ALAMIN

    BANG NAPI

  4. kriminologi Says:

    Salam,
    Terima kasih atas responnya. Saya kira apa yang disampaikan bang napi memang demikian adanya. Ibarat kata “prison industrial complex”. Pelaksanaan pidana di penjara juga dapat menjadi ajang bisnis. Semoga wacana reformasi sistem pemasyarakatan di Indonesia dapat terwujud.

    Terima kasih

  5. tsan Says:

    menurut saya ya…bersihkan dulu sistem Pemasyarakatan dari oknum yang memanfaatkan LP jadi ajang bisnis trus terapkan sistem tersebut sesuai UU yang perlaku….kan katanya sistem kepenjaraan sudah diubah jadi pemasyarakatan. nah, itu kalo diterapkan mungkin kondisinya akan lebih baik. jangan cuma ganti nama….jangan buat napi lebih jahat dari sebelumnya…

  6. utteshara Says:

    Make love, not war!


  7. budaya kotor di Lp sudah sangat parah (pungutan liar, peredaran Napza, dll) Lp ibarat sarang penyamun, lingkaran setan, semua terlibat, dan ini terjadi di semua LP di tanah air. mengapa kebobrokan ini terjadi. faktor nya adalah di petugas (sipir Lp). semua visi-misi dan fungsi penjarah sudah tidak berarti sama sekali. LP menjadi Wilayah mafia yang sulit dideteksi oleh hukum…termasuk soal perlakuan terhadap napi…napi yang berkantung tebal dengan bebasnya dia bak kehidupan di luar. tapi napi yang boke” dia tinggal menunggu ajal dan kesengsaraaan di LP…..

  8. bagus.sudarmanto Says:

    Salam,
    Saya yakin sebenarnya banyak hal-hal positif yang tengah dan akan dikembangkan LP yang mungkin tidak diketahui publik dengan baik selama ini. Masalahnya masyarakat lebih banyak disuguhi kabar buruk ketimbang kabar baik, terutama dalam kaitan terungkapnya bisnis narkoba di dalam atau dari penjara beberapa waktu belakangan. Penjara akan jadi berita di media massa kalau terjadi keributan, narkoba, napi kabur, dan lain-lain. Artinya citra buruk itu dibiarkan tanpa diimbangi kerja “kampanye” yang positif. Sebab kalau bicara “kebobrokan” birokrasi di Indonesia, di mana ada lembaga pemerintahan yang bersih?
    Saran saya, fungsi kehumasan penting untuk dimaksimalkan. Termasuk apa yang diuraikan Mas Iqrak sebenarnya adalah bagian dari usaha mendudukan masalah kepenjaraan dalam posisi yang fair di mata publik.
    Kita jangan pernah berhenti berdiskusi dan terus mencari dan mencari…
    Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: